Hijabkan Hati Bersama Tiung Mode !

Hijabkan Hati Bersama Tiung Mode !

Banyak yang sering berargumen atau memberikan statement mengenai harus terlebih mana dulu yang didahulukan antara mengijabkan hati atau secara fisik (Hijabkan aurat)? Ada yang bilang “Yang penting hatinya aja dulu yang berjilbab, baru memakai jilbab beneran” atau ada juga yang mengkhawatirkan mengenai penampilan dengan berdalih belum pantas berhijab. Atau ada juga yang memang sudah berkeinginan besar untuk berhijab tetapi masih meragukan perilaku atau akhlaknya. Dan masih banyak lagi ungkapan – ungkapan atau alasan – alasan atau hanya sebagai pembenaran yang seharusnya ada solusi terbaik dari semua alasan itu apabila memang sudah berniat dengan sungguh – sungguh. Kalau segala sesuatu bertujuan baik apalagi urusannya dengan agama, harus segera dilaksankanan dan diwujudkan jangan ditunda – tunda lagi agar tidak termasuk ke dalam orang – orang yang merugi.

 Karena sesungguhnya berhijab atau menutup aurat ialah perintah langsung dari Allah SWT kepada semua kaum hawa. Allah SWT memerintahkan agar semua kaum wanita untuk menutup auratnya atau berhijab melalui ayat berikut :

Katakanlah kepada wanita-wanita beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.’” (Qs. An-Nuur: 31)

Dan firman-Nya,

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab: 59)

Adanya perintah untuk kaum wanita untuk berhijab ialah semata – mata untuk melindungi kaum wanita dari segala macam jenis gangguan – gangguan atau hal – hal yang tidak diinginkan yang nantinya akan merugikan bagi wanita itu sendiri, mengingat wanita merupakan makhluk yang lemah dan harus dilindungi. Sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya,

Wanita itu adalah aurat, jika ia keluar rumah, maka syaithan akan menghiasinya.” (Hadits shahih. Riwayat Tirmidzi (no. 1173), Ibnu Khuzaimah (III/95) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir (no. 10115), dari Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma).

Apabila niat sudah bulat untuk berhijab, maka lekas wujudkan. Karena sesungguhnya tidak ada standar seperti apa atau sampai mana kalau hati kita sudah dihijab dan mau sampai kapan lagi, sementara tidak ada yang menjanjikan kepada kita bahwa kita akan hidup sampai tua. Berhijab secara fisik atau aurat sesungguhnya menghijabi hati juga, dan mempercantik fisik maka akan secara otomatis mempercantik hatinya juga karena sesungguhnya hijab adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh kaum hawa, mau bagaimanapun alasannya.

Jadi manakah yang terlebih dilakukan antara menjilbabi hati atau aurat? Jawaban terbaik ialah lakukan keduanya secara bersama – sama, karena sesungguhnya apabila kita hanya menjilbabi aurat tetapi tidak dengan hati kita dengan masih terus berburuk sangka, dengki dan penyakit hati lainnya dan sebaliknya apabila kita hanya menjilbabi hati saja tetapi tidak menjilbabi aurat, itu kurang baik karena berhijab atau menutup aurat sejatinya perintah langsung dari Allah SWT. Dibalik semua alasan atau manfaat, berhijab bukan semata – mata hanya identitas saja bahwa wanita tersebut adalah wanita muslim. Berhijab merupakan perintah langsung dari Allah yang hukumnya wajib untuk dilakukan dan juga menjadi sebuah bukti bahwa wanita tersebut taat atau tidaknya terhadap perintah Allah SWT. Berhijab merupakan perintah wajib sebagaimana Allah SWT memerintahkan umatnya untuk Shalat, puasa dan ibadah – ibadah lainnya yang memang hukumnya wajib sebagai umat muslim. Sebagaimana kita ingin menjadi umat yang taat atau khususnya untuk kaum wanita ingin menjadi wanita muslim yang baik dimata Allah, seharusnya hati kita sudah tergerak untuk menjalankan perintahnya sebagai suatu bukti atas ketaatan dan keimanan kita, karena sesungguhnya yang mampu menilai diri kita hanyalah Allah SWT sang Maha Pencipta. Selain sebagai suatu pembuktian, ini merupakan suatu perlindungan untuk diri kita sendiri dari segala bentuk godaan atau gangguan – gangguan dari luar yang mungkin saja terjadi tanpa sepengetahuan kita.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *